Selamat datang para penggemar Pokemon Ground di Indonesia...

Protected by Copyscape plagiarism checker - duplicate content and unique article detection software.

"

pokemonHalo!!! Salam kenal dari Sandslash dan terima kasih sudah mampir....

Sandslash dkk. adalah sebuah weblog Pokemon yang secara khusus membahas tentang Pokemon tipe tanah/Ground beserta atribut-atributnya...
Weblog ini akan diperbaharui setiap dua minggu sekali dengan artikel-artikel dan postingan-postingan yang baru.
Berikut rubrik-rubrik yang ada pada weblog ini:


~GroundDex : membahas salah satu Pokemon tipe tanah secara tuntas termasuk pembahasan spesies yang menjadi inpsirasi Pokemon tanah.
~GrounDojo: membahas jurus-jurus (move) Pokemon, khususnya yang bisa digunakan Pokemon bertipe tanah dan juga menampilkan pertandingan Competitive Battle pilihan.
~GroundCard: menampilkan TCG bergambar Pokemon tipe tanah.
~Ground News: berisi berbagai informasi dan liputan teraktual tentang Pokemon, khususnya tipe tanah.
~Ground TV: menampilkan video-video pilihan Pokemon tanah.
~Local Map: Berisi lokasi-lokasi yang ada Pokemon tanahnya.
~PlayGround: berisi berbagai ide-ide kreatif dan ketrampilan yang berhubungan dengan Pokemon tanah.
~Strategy Center: berisi kumpulan strategi permainan Pokemon, khususnya tipe tanah.
~Sandslash's Burrow:
berisi kisah-kisah Sandslash dan kawan-kawannya serta obrolan dengan Elite Four L terkait pengalamannya dengan Pokemon.
~L's Diary: berisi cerita bersambung serial Petualangan Elite Four L di dunia Pokemon, Servada Chronicles.
~Elite Four's Notes: berisi tulisan-tulisan dibalik pembuatan artikel Sandslash dan kawan-kawan...

Oke, kalau tidak ada aral melintang, Sandslash akan selalu memperbaharui weblog ini dua kali setiap bulannya. Do'akan agar selalu update ya?

PERHATIAN!
Sebagian gambar dan materi dalam blog ini diambil dari internet sementara sebagian lagi murni buatan Elite Four L.
Elite Four L tidak akan mengklaim materi yang bukan miliknya.
Dilarang mengkopi artikel dalam blog ini tanpa izin dari Elite Four L.
Terima kasih.

Nama-nama dan karakter Pokemon adalah hak cipta dari Nintendo, GameFreak, Creatures Inc., dan Pokemon Company.

Sandslash dkk. adalah bagian dari komunitas Pokemon Indonesia.

Senin, 17 Maret 2014

Lunar's Diary: Eps.423 - Menyongsong Si Pincang


Episode 423: Menyongsong Si Pincang

“Electabuzzku belum habis… Electabuzzkulah yang menang!” seru Volta penuh semangat. “Huh, dengan tidak bersemangat saja kamu bisa menjatuhkan Pokemonku sejauh ini. Bagaimana bila kamu bersemangat… Tapi aku takkan membiarkan itu terjadi… karena aku akan mengalahkanmu terlebih dulu! Electabuzz… Pukulan Petir!”


Mendadak Electabuzz bangkit berdiri dengan sekali sentakan, dan detik berikutnya dia bergerak menerjang cepat ke arah Froslass dengan tangan terkepal erat. Sebuah pukulah pun menghantam Pokemon putih yang melayang di udara itu. Forslass terhempas, jatuh di atas arena dengan kilatan listrik bermunculan di sekujur tubuhnya. Froslass pingsan.
“Aku kalah,” kata Yuki, masih dengan nada datar. Seolah, kalah ataupun menang tidak berpengaruh pada perasaannya. Dengan pelan dia memasukkan Pokemonnya itu kembali ke dalam Pokeball.
“Huh… kamu lawan yang menarik, Yuki,” kata Volta melihat sikap lawannya yang tenang. “Entah kenapa aku merasa tidak puas walaupun sudah mengalahkanmu. Seakan kamu sengaja mengalah, seolah kamu tak mau melawanku.”
“Terserah kamu saja,” jawab Yuki datar. Dia lalu menoleh ke arah Flame seraya berkata, “Sekarang bisa kamu umumkan, Nona.”
Flame terkejut dengan ucapan Yuki, dan segera tersadar dari keheranannya melihat Electabuzz memenangkan pertarungan. Dia mengangkat tangannya ke atas, dan dengan enggan menggerakkannya menunjuk Volta. “Dan pemenang pertarungan ini… petarung yang berhak lolos ke babak final adalah…. Badut!!!”
Seruan Flame tak serta merta mendapat tanggapan para penonton. Rupanya, para penonton masih takjub dengan kemenangan Volta. Wajar saja, mengingat semestinya Electabuzz tak sanggup lagi bertarung setelah terkena serangan badai salju yang begitu kuat dari Froslass. Pun dengan Froslass, setelah terkena serangan halilintar dari Electabuzz, semestinya Pokemon bertipe es itu tidak dapat bangkit lagi. Ya, jurus halilintar dan badai salju memiliki daya serang yang sama-sama kuat, dan menjadi serangan paling kuat pada masing-masing tipe. Tapi, kedua Pokemon itu tetap bertahan.
“Kenapa bisa seperti itu?” Tanya Flame kemudian.
Volta mendengus. Dengan angkuhnya dia menjawab, “Itulah yang disebut ikatan. Meskipun serangan badai salju begitu kuat, tapi tak mampu menjatuhkan Pokemonku. Padahal semestinya Electabuzz akan langsung pingsan. Sama juga dengan Pokemon milik Yuki. Sepertinya ikatan antara Yuki dengan Froslass begitu kuat.
“Meski Pokemonku sanggup bertahan, tapi HP telah menipis hingga batas terakhir. Artinya, dalam kondisi seperti itu trainer harus bisa memanfaatkannya dengan memerintahkan serangan yang pasti,” sambung Volta. “Karena itulah aku memerintahkan pukulan petir, yang akurasinya 100 persen. Dengan HP Froslass yang tinggal sedikit, mudah saja bagi pukulan itu untuk menjatuhkannya telak!”
“YEEEE!!!!”
Suasana tribun mendadak meriah. Para penonton bersorak senang dengan hasil pertandingan, walaupun sebenarnya sangat terlambat.
“BADUT! BADUT BADUT!!!”
Volta menanggapi sambutan para penonton dengan angkuh. Dia tampak menikmati kemenangannya. Segera saja dia teringat sosok yang telah dinantikannya di partai puncak… siapa lagi kalau bukan…
“Selamat,” kata Yuki tiba-tiba, membuat Volta tersadar dari perasaan senangnya. Dia langsung menoleh ke arah Yuki. “Semoga kamu bisa mengalahkan si Pincang di final,” sambung Yuki.
Berikutnya perempuan berambut merah kecoklatan itu membalikkan tubuhnya, berjalan meninggalkan arena pertarungan.
“Orang yang aneh,” bisik Flame.
“Ya, aku setuju denganmu,” sahut Volta. “Tapi itu tak penting. Yang terpenting sekarang aku berhasil ke final!” kata-kata Volta terdengar sangat bersemangat. Dia lantas mencari kamera dan menggerakkan tangannya cepat ke arah kamera, lantas mengatakan…

*

Kembali ke Pokemon Center…

“Berikutnya adalah giliranmu, Pincang!” teriak Volta di televisi. Dia menunjuk ke luar televisi, seakan menunjuk ke arahku. Lagi-lagi dia melakukan itu. Aku hanya bisa tersenyum tipis mendapat tantangan itu. Akhirnya, akhirnya saat yang kunantikan tiba. Saat untuk bertarung kembali dengan Volta… untuk membuktikan siapa yang terkuat di antara kami berdua!


BAB LX SELESAI

Keterangan Alih Bahasa
-          Pusaran Pasir: Sand Tomb
-          Listrik: Electric
-          Sungai Pasir: Sand Stream
-          Tubuh Api: Flame Body
-          Badai Salju: Blizzard
-          Halilintar: Thunder
-          Pukulan Petir: Thunder Punch
-          Es: Ice
-          Hantu: Ghost

Lunar's Diary: Eps.422 - Lawan yang Dingin


Episode 422: Lawan yang Dingin

Mundurnya Reaper secara tiba-tiba mengagetkan banyak pihak. Termasuk Scott selaku penyelenggara Frontier Festival. Dia bersama timnya pun mengadakan rapat untuk membahas kelanjutan turnamen usai Reaper menghilang. Ya, mereka mesti menentukan hasil pertarunganku dengan Reaper. Mereka mesti memikirkan langsung meloloskanku ke final, atau menggunakan opsi lain. Setelah melalui rapat selama sekira satu jam, akhirnya Scott memberikan keputusan yang langsung diumumkan kepada para penonton Frontier Festival. Keputusannya…
“Selamat ya Kak Lunar, kamu berhasil melaju ke babak final,” ujar Lavender membuyarkan lamunanku. Aku sedang menunggu Pokemonku di Pokemon Center ketika dia tiba-tiba menyapaku.
“Terima kasih Lavender,” sahutku pelan. “Kamu mengobati Pokemon juga?” balasku bertanya, mencoba ramah.
Lavender mengangguk pelan mengiyakan. “Aku tidak menyangka kamu berhasil mewujudkan ucapanmu. Walaupun dengan faktor tak terduga,” katanya.
“Hahaha… aku juga tak menyangka si Reaper itu tiba-tiba mengundurkan diri begitu saja,” sahutku. Bicara tentang Reaper, membuatku segera teringat Henry yang terluka akibat ulahnya. “Bagaimana keadaan Henri? Apa sudah membaik?” tanyaku kemudian.
Lavender mengangguk lagi. “Iya. Kondisinya sudah membaik, walaupun ingatannya masih belum pulih benar. Kata dokter, butuh waktu hingga ingatan Henry benar-benar kembali.”
“Baguslah… aku ikut senang,” kataku seraya tersenyum. Entah kenapa bayangan Reaper kembali muncul di benakku. Aku tak habis pikir dia mengundurkan diri begitu saja dari turnamen dan langsung hilang tanpa jejak. Jujur, ada sesuatu yang terasa aneh saat aku berhadapan dengannya. Aku merasa seperti… begitu dekat. Dan sebenarnya, ada rasa takut ketika aku berada di arena bersiap menghadapinya.
“Hei, lihat itu Kak!” tunjuk Lavender tiba-tiba. Aku segera menoleh, melihat ke televisi yang tergantung di langit-langit Pokemon Center, yang ditunjuk Lavender. Rupanya siaran langsung pertarungan semifinal lainnya, Volta melawan seorang petarung perempuan bernama Yuki. Segera saja aku dan Lavender terhanyut dalam suasana pertarungan yang terasa begitu seru. Tanpa kuduga, Yuki cukup kuat dan mampu menandingi Volta….

*

Ke Battle Arena, Semifinal Kedua…

Volta tampak terengah-engah di tempatnya berdiri. Dia tidak menyangka kemampuan lawannya tak seperti yang dibayangkannya. Yuki, trainer berambut pendek merah kecokelat-cokelatan dengan pakaian kimono biru itu bahkan tampak tenang saat menjatuhkan dua Pokemon Volta. Kini, masing-masing petarung tinggal menyisakan Pokemon terakhir mereka masing-masing. Volta dengan Electabuzznya, dan Yuki dengan Froslassnya, Pokemon bertipe es dan hantu yang melayang di udara. Kini, keduanya siap untuk pertarungan penentuan.


“Tak kusangka perempuan sepertimu bisa menandingiku hingga batas terakhir. Hebat kamu Yuki,” puji Volta dengan keringat bercucuran. Pemandangan berbeda tampak pada Yuki. Tubuhnya tampak begitu dingin, putih, seperti es. Tak ada setetespun keringat tampak di wajahnya yang terlihat halus. Matanya yang berwarna biru muda pun tampak begitu bening, seperti es.
“Kamu jangan berlebihan. Aku mendekati kekalahan,” jawab Yuki dengan nada datar, sedatar ekspresi wajahnya.
“Seharusnya itu kalimatku,” sela Volta. “Dan akan kupastikan sekarang…. Electabuzz, Halilintar!”
Electabuzz mengeluarkan kilatan besar dari tubuhnya, yang menerjang keras Froslass. Namun, Froslass langsung bangkit, dan balik memberikan serangan. “Froslass, Badai Salju,” perintah Yuki, masih dengan nada datar. Sama sekali tak terdengar semangat dalam ucapannya, seolah dia enggan bertarung.
Badai salju besar segera muncul di seantero arena pertarungan, dan menyebar hingga ke tribun penonton. Beberapa penonton tampak bersin dan kedinginan dengan kemunculan serangan Froslass itu. Seketika, Electabuzz mencelat. Pokemon andalan Volta itu terbaring tak berdaya, seakan telah kehabisan Hit Points (HP).
Dugaan Electabuzz tak dapat kembali bangkit pantas muncul, mengingat setelah bebera detik, Pokemon kuning bergaris hitam itu tak juga bangkit. Para penonton yang tadinya kedinginan pun melihat tajam kea rah Electabuzz tanpa menghiraukan rasa dingin akibat Badai Salju. Begitu pula dengan Flame yang mengamatinya dengan seksama. Dia seakan tak sabar untuk mengeluarkan pernyataan kekalahan Volta. Dengan segala hal yang telah dilakukan Volta, wajar saja bila Flame memiliki keinginan kuat seperti itu.
“Sepertinya Electabuzz milik Badut tidak mampu meneruskan pertarungan… dengan demikian…”
“Tahan dulu Flame!” sergah Volta cepat. Seketika para penonton yang serius menyaksikan langsung menahan napas. “Electabuzzku belum habis… Electabuzzkulah yang menang!”

Lunar's Diary: Eps.421 - Reaper Mundur


Episode 421: Reaper Mundur

Aku mengundurkan diri. Aku mengaku kalah.
Eh?
Seketika seluruh arena menjadi lengang mendengar ucapan Reaper. Tak lama, bisik-bisik para penonton terdengar dari semua tribun di dalam Battle Dome. Bisik-bisik itu lantas berubah menjadi suara riuh, yang terus bergemuruh.
“Hei, apa maksudmu? Apa kamu ketakutan dengan si Pincang sampai bilang seperti itu?” teriak salah seorang penonton.
“Apa-Apaan kamu ini? Kami di sini ingin menonton pertarungan yang hebat, bukannya omong kosong!” gerutu penonton yang lain.
Suara-suara sumbang lainnya pun muncul. Cepat saja tribun para penonton menjadi riuh ramai dengan ocehan para penonton yang tidak puas. Sementara, aku, Flame, dan official turnamen terdiam bingung.
“Reaper? Bisa kau jelaskan apa maksud perkataanmu?” tanya Flame mencoba menenangkan keadaan. Mendengar suara Flame, keributan di bangku penonton tiba-tiba sirna. Kini mereka tengah menantikan jawaban Reaper atas pertanyaan Flame.
Aku mengaku kalah. Terima kasih,” jawab Reaper datar. Kemudian dia berbalik dan berjalan menuju pintu keluar Battle Dome.


“Hei, mau kemana dia?” seru seorang penonton.
“Apa dia benar mengalah?” sahut yang lain.
Melihat gerak-gerik Reaper, official turnamen menjadi bingung. Kulihat Scott tampak bingung, pun dengan Flame. Dan aku. Sementara Reaper terus berjalan dengan santainya menuju pintu keluar, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, saat tinggal selangkah lagi orang aneh itu mencapai pintu…
“Kembali kau, Reaper!” aku berteriak keras, mengalihkan semua perhatian di Battle Dome ke arahku. Termasuk Reaper, yang berhenti melangkah. “Apa maksudmu dengan mengaku kalah? Kita bahkan belum bertarung. Segeralah kembali ke arena, dan kita selesaikan ini dengan jantan,” seruku marah.
Sudah kubilang kamu tidak usdah repot-repot, Pincang,” sahut Reaper. Dia kembali melangkah, dan kini melintasi pintu. Dia keluar dari Battle Dome.
“Kurang ajar!” teriakku berang. Aku tak pernah merasa diremehkan seperti ini sebelumnya. Bisa-bisanya dia mengacuhkanku begitu saja, seolah aku ini begitu lemah? Aku tidak bisa terima. “Jangan kabur kamu, pengecut!”
Sontak aku berlari melintasi arena, mengejar Reaper yang telah berada di luar. Sebelum aku benar-benar keluar dari Dome, sempat kudengar suara Flame mencoba menenangkan para penonton yang sangat berisik.
Segera saja aku berada di luar Battle Dome dan mendapati tidak ada seorang pun di luar arena. Lalu, kemana perginya Reaper? Sial! Dia menghilang begitu saja!
“Lunar!” terdengar teriakan Flame di belakangku.Aku menoleh dan tampak Flame bersama Scott berlari ke arahku. “Mana Reaper?” tanyanya kemudian.
“Ya, dimana si pembuat masalah itu?” Scott ikut bertanya. “Seolah masih kurang saja masalah di turnamen ini. Kini dia membuat heboh dengan tiba-tiba mengundurkan diri.” Scott melihat berkeliling, namun sama sepertiku, tidak menemukan keberadaan sosok misterius itu. “Eh, dimana dia?” tanyanya heran.
“Entahlah, aku juga tidak tahu,” sahut terengah-engah karena berlari tadi. “Sepertinya… dia sudah meninggalkan pulau ini…”

*

Sementara itu, di tempat lain di Frontier, tanpa kutahu…

Reaper tampak berjalan masuk ke dalam gua yang gelap. Dia berjalan begitu tenang, hingga sesuatu yang kuning menyala terlihat di depannya.
Aku selesai. Sekarang terserah padamu. Kuberikan kamu kesempatan melawannya. Tapi berikan apa yang aku inginkan,” kata Reaper pada cahaya kuning, yang ternyata adalah rambut seorang lelaki yang berdiri di sana.
“Terima kasih Reaper. Pertarunganku dengan Si Pincang ini pasti akan seru. Akhirnya tiba kesempatan bagiku, untuk membuktikan siapa yang terkuat. Kuyakinkan dirimu, aku akan menang dalam turnamen ini. Dan akan kulakukan apa yang kamu minta, di pertarungan puncak nanti!”

Lunar's Diary: Eps.420 - Semifinal Dimulai


Episode 420: Semifinal Dimulai

“Reaksi-reaksi tertentu? Reaksi apa?”
“Emosi, perasaan manusia,” jawab Flame. “Bila aku sedang sedih, atau marah, api bisa muncul begitu saja dari tubuhku. Aku tidak bisa mengendalikannya, dan saat itu aku hilang kesadaran, seolah ada setan yang merasukiku, mengambil alih tubuhku.”
Setan… yang mengambil alih tubuh? Tanyaku dalam hati.
“Aku belum bisa banyak berbicara mengenai PokeHuman dan sel-A. Karena Kakek Blaine sedang menyelidikinya. Yang membuatku terkejut, ternyata kamu pun seorang PokeHuman. Sungai pasir. Aku benar-benar tak percaya,” kata Flame kemudian.
“Jangankan kamu, aku saja tak percaya,” sahutku tertunduk. Langsung saja aku teringat momen pertama kali aku mampu mengeluarkan badai pasir. Saat itu aku di Verdanturf, dan pasir-pasir muncul begitu saja saat aku sedang tertidur. Sejak itu, beberapa kali pasir-pasir misterius muncul dari tubuhku, kebanyakan ketika aku sedang berada dalam kondisi perasaan yang tidak menyenangkan. Terakhir ketika aku berhadapan dengan Volta di depan rumah sakit, yang jumlahnya begitu banyak.
“Lunar…” panggil Flame. Aku mendongak dan memandang ke arahnya. Dia tersenyum lantas mendekatiku. Dia menggenggam tanganku lembut, membuatku terkejut. Tangannya begitu hangat. “Menangkanlah turnamen ini.Menangkanlah turnamen ini, dan kita lakukan apa yang semestinya kita lakukan sejak awal,” bisiknya pelan.
Aku terdiam memandang wajahnya. Tampak kesedihan pada wajahnya yang putih nan ayu itu. Aku lalu tersenyum, dan mengangguk mengiyakan. “Tentu, Miss Festival. Akulah yang akan memenangkan turnamen ini.”

*

Hari pertarungan, Semifinal 1

Suasana Battle Dome sudah dipadati begitu banyak penonton. Seolah mereka sudah tidak sabar menyaksikan pertarungan semifinal pertama hari ini: Lunar melawan Reaper. Ya, aku Si Pincang dari Verdanturf bakal menghadapi sosok misterius itu, yang telah membuat kekasih Lavender hilang ingatan. Ini akan jadi pertarungan besar!
“Selamat datang kembali di… FRONTIER FESTIVAL!” sebuah suara perempuan terdengar lantang di seantero Battle Dome. Flame, berdiri dengan anggunnya mengenakan gaun hijau di tengah arena. Wajahnya tampak kembali ceria, tidak seperti saat tragedi PokeHuman terjadi. Syukurlah, aku senang melihatnya.
“Hari ini kita akan menyaksikan pertarungan semifinal pertama Frontier Festival. Yang akan mempertemukan… petarung pincang yang luar biasa… Lunar Servada!” Flame menunjuk ke arahku yang berdiri di sisi kanan arena, yang langsung disambut riuh suara penonton.
“Ayo pincang! Kamu pasti bisa!” teriak salah seorang penonton.
“LUNAR! LUNAR! LUNAR!” suara teriakan mengelu-elukan diriku terdengar saling bersahutan.
“Melawan…” Flame melanjutkan sesi perkenalan para petarung, seraya melihat dan menunjuk ke sisi yang berseberangan denganku, “…. petarung misterius kita…. Reaper!”


“Yeah! REAPER!!!” teriakan keras dari penonton turut terdengar dari tribun penonton. Namun tak lama, teriakan itu berubah cibiran.“HUUUU!!!”
Suasana mendadak sunyi. Seakan kehadiran sosok berjubah dan bertudung hitam di arena mampu membungkam suara-suara para penonton.
“Lunar, kalahkan dia! Kamu pasti bisa!” tiba-tiba terdengar suara perempuan di tepi arena. Aku menengok dan melihat Lavender di sana. “Lunar, balaskan kekalahan Henry,” sambung Lavender.
Aku mengangguk mantap. “Ya, akan kumenangkan pertarungan ini. Demi Henri.”
Segera kuarahkan pandanganku pada Reaper, melihat sejurus ke wajah Reaper yang gelap tertutup tudung. Itu pun kalau dia punya wajah. Karena entah kenapa aku merasa sosok misterius itu memang tidak memiliki wajah. Apa dia hantu? Hmm… aku tidak tahu.
“Reaper, hari ini akan kuhentikan langkahmu di sini. Aku akan mengalahkanmu!” seruku bersemangat. Tak ada jawaban.Reaper berdiri terdiam, seakan tak mendengar ucapanku.
Kamu tak perlu bersusah payah seperti itu, Pincang,” tiba-tiba Reaper menyahut dengan suaranya yang bergetar. “Karena aku sudah tak tertarik dengan turnamen ini…
“Eh, apa maksudmu?” tanya terkejut. Tapi bukan hanya aku yang terkejut, para penonton pun tampak bingung dengan ucapannya. Kulihat beberapa penonton berbisik-bisik, seakan bertanya-tanya maksud ucapan Reaper. “Reaper, jangan bercanda. Maksudmu apa dengan sudah tak lagi tertarik di turnamen ini?” tanyaku kesal. Bagaimana tidak kesal? Ucapannya seolah meremehkanku, menjatuhkan kepercayaan diriku.
Kalian terlalu lemah bagiku. Turnamen ini bukan kelasku,” sahut Reaper.
“Oh ya?Sombong sekali dirimu,” sergahku marah.Bisa-bisanya orang gak jelas ini menyebut para petarung di turnamen ini lemah.Aku mesti berusaha mati-matian untuk sampai di babak ini.“Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanyaku kemudian.
Reaper terdiam. Auranya begitu dingin, seolah tak ada kehidupan di tubuhnya. Perlahan, kepalanya mendongak dan melihat ke arahku. Sedetik kemudian, sebuah kalimat yang sangat tak bisa dipercaya keluar dari mulutnya.
Aku mengundurkan diri. Aku mengaku kalah.